Edisi 26 Oktober 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Duta NusantaraBudaya

Makassar untuk pemburu nostalgia: coto pagi, arkade di lantai atas mal lama, dan meja kartu hari ini

Kota ini menyimpan ingatan generasi yang tumbuh dengan mesin ding-dong dan rental konsol di gang perumahan. Panduan makan dan jalan untuk pendatang yang ingin merasakan sisa-sisanya, sekaligus melihat ke mana hobi itu berpindah sekarang.

Setiap kota punya generasi yang mengingat masa kecilnya lewat suara tertentu. Di Makassar, bagi mereka yang tumbuh pada akhir abad lalu, suara itu adalah koin jatuh ke mesin arkade di lantai atas pusat perbelanjaan lama, biasanya dekat bioskop atau area makan. Mesin-mesin itu sebagian besar sudah hilang, tetapi kebiasaan yang lahir dari sana belum: berkumpul sore-sore, bersaing kecil-kecilan, dan pulang dengan cerita.

Pendatang yang datang dengan minat yang sama, entah pada permainan kartu, konsol lawas, atau sekadar kenangan, bisa menyusun satu hari di Makassar mengikuti ritme itu. Mulai dari meja makan, berpindah ke mal-mal lama, dan berakhir di meja kartu.

Baca juga: Adab di pasar tradisional: cara menawar, menyentuh barang, dan memotret tanpa menyinggung

Makan mengikuti jam kota

Makassar punya jam makan yang cukup tegas untuk kuah dagingnya. Coto adalah urusan pagi hingga siang, disantap dengan ketupat atau burasa di warung yang biasanya sudah ramai sejak subuh. Siang hari, sop konro, iga sapi berkuah gelap dengan aroma keluak, lebih cocok karena porsinya berat. Sore hingga malam adalah waktu pallubasa, yang kuahnya pekat oleh kelapa sangrai dan sering ditambah kuning telur mentah ke dalam mangkuk panas.

Di antara jam-jam itu ada jalangkote, pastel goreng dengan sambal cair cuka, dan es pisang ijo, pisang berbalut adonan hijau yang disiram bubur sumsum dan sirup merah. Keduanya adalah camilan sore yang pas disantap sambil menunggu hujan reda atau matahari turun di Losari. Untuk malam yang lebih larut, mie titi, mi kering yang disiram kuah kental berisi seafood, adalah hidangan yang masih dijual sampai jauh malam.

Jejak arkade dan rental yang tersisa

Mal-mal yang lebih tua di pusat kota masih layak dikunjungi, bukan untuk belanja, melainkan untuk melihat denahnya. Lantai teratas yang dulu dipenuhi mesin arkade kini sering berubah menjadi area permainan keluarga atau tempat makan, tetapi tata letaknya, di dekat bioskop, masih sama. Di luar mal, rental konsol di gang-gang perumahan adalah bab kedua dari cerita ini: tempat anak-anak yang tidak punya konsol sendiri belajar main dan belajar antre.

Bab ketiganya terjadi sekarang, dan bentuknya adalah meja. Sesi Pokemon TCG atau One Piece Card Game di kafe dan teras rumah menggantikan kerumunan di depan mesin. Pengamatan yang sama disampaikan oleh pengelola 8-BIT BAZAAR, toko di Makassar yang menjual kartu koleksi, Tamagotchi, cartridge lawas, dan barang-barang arkade, dan yang sering menulis tentang perpindahan dari mesin ke meja itu dalam catatan tokonya.

Untuk pendatang, toko seperti ini berguna sebagai pintu masuk ke komunitas, bukan hanya sebagai tempat belanja. 8-BIT BAZAAR terbiasa menerima pertanyaan lewat WhatsApp soal etika malam trading, apa yang perlu dibawa, dan bagaimana tukar kartu yang adil, dan jawaban-jawaban itu berlaku di meja mana pun di kota ini.

Catatan praktis dan soal hujan

Berkeliling di antara pusat kota, kawasan mal lama, dan pantai paling mudah dengan ojek daring atau pete-pete, angkutan kota biru yang rutenya dibaca dari tulisan di kaca depan. Jalan-jalan utama padat pada jam pulang kantor, jadi sebaiknya perjalanan antar kawasan dilakukan siang atau setelah makan malam.

Hujan di Makassar cenderung turun deras dan singkat, terutama menjelang akhir tahun, dan beberapa ruas jalan tergenang sebentar setelahnya. Bawa kantong plastik atau pouch kedap air untuk barang koleksi yang dibeli dalam perjalanan; kelembapan pesisir adalah musuh utama cartridge dan mainan elektronik lama, hal yang juga sering diingatkan oleh 8-BIT BAZAAR kepada pelanggannya. Selebihnya, biarkan kota ini mengatur ritmenya sendiri: pelan di siang hari, ramai saat sore, dan paling hidup justru setelah matahari tenggelam.

FS
Farah SamudraFarah menulis dua puluh tiga artikel untuk rubrik Jalan-jalan dan Kuliner sejak 2023 dan masih mengisi halaman kami. Ia menyusun itinerari musim hujan berdasarkan catatan pribadi tentang jam berapa hujan turun di setiap kota yang pernah ia singgahi.
Dapatkan tulisan baru Duta Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.