Edisi 26 Oktober 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Duta NusantaraBudaya

Makan bersama tanpa piring sendiri: liwetan, megibung, bajamba, dan makna sepiring panjang

Di berbagai daerah, cara paling bermakna menyantap makanan adalah dengan duduk melingkar dan makan dari wadah yang sama. Tradisi ini punya aturan dan filosofi yang layak dipahami pendatang.

Makan bersama tanpa piring sendiri: liwetan, megibung, bajamba, dan makna sepiring panjang
Foto: V / Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)

Ada satu hal yang berulang di banyak kebudayaan Nusantara: makanan terbaik disantap bersama, dari wadah yang sama, tanpa piring pribadi. Namanya berbeda-beda, aturannya berbeda-beda, tetapi gagasannya serupa. Makan bersama adalah cara menyatakan bahwa tidak ada yang lebih tinggi di sekeliling hidangan.

Liwetan di Jawa

Baca juga: Membaca nampan jajanan pasar: lapis, lemper, getuk, dan keluarga kue basah Nusantara

Di Jawa, liwetan atau bancakan adalah menghampar daun pisang memanjang di lantai atau meja, menuang nasi liwet yang dimasak dengan santan dan rempah di tengahnya, lalu menata lauk di atasnya: ikan asin, tempe, sambal, lalapan, telur, atau ayam. Orang duduk di kedua sisi dan makan dengan tangan dari bagian di depannya masing-masing.

Kebiasaan ini dulu identik dengan selamatan dan kerja bakti di desa, tetapi beberapa tahun terakhir hidup kembali di kota sebagai cara merayakan ulang tahun, perpisahan, atau sekadar berkumpul. Tidak ada tata letak yang baku; yang penting semua bisa menjangkau nasi dan lauk.

Megibung di Bali dan bajamba di Minangkabau

Di Bali, terutama di Karangasem, megibung adalah tradisi makan bersama dengan aturan yang lebih rapi. Sekelompok orang, umumnya enam sampai delapan, duduk melingkar mengelilingi satu wadah nasi dan lauk yang disebut gibungan. Ada aturan tentang siapa yang mulai lebih dulu, bagaimana mengambil lauk tanpa menjatuhkan remah ke wadah bersama, dan bahwa semua selesai pada waktu yang kira-kira sama.

Tradisi ini diyakini berakar pada masa kerajaan sebagai cara mempererat pasukan dan rakyat, dan masih dijalankan dalam upacara keagamaan serta acara desa. Pendatang yang diundang megibung sebaiknya mengikuti orang di sebelahnya dan tidak mulai sebelum yang dituakan memulai.

Di Sumatra Barat, makan bajamba adalah tradisi duduk bersila melingkar di atas tikar dengan hidangan di tengah, biasanya dalam acara adat dan keagamaan. Ada tata cara tentang posisi duduk, cara menyuap agar nasi tidak jatuh, dan penghormatan kepada yang lebih tua. Dalam tradisi ini, makan adalah bagian dari adat, bukan jeda darinya.

Yang sama dan yang perlu diperhatikan

Di luar tiga nama ini, ada banyak bentuk serupa: makan patita di Maluku dengan meja panjang yang dipenuhi hidangan dari seluruh kampung, botram di tanah Sunda, dan berbagai tradisi makan bersama di Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Semuanya menempatkan kebersamaan di atas porsi.

Bagi pendatang, beberapa hal berlaku di hampir semua tempat: mencuci tangan sebelum duduk, makan dengan tangan kanan, mengambil dari bagian yang terdekat dan bukan menjangkau ke seberang, tidak menyisakan nasi di bagian sendiri, dan menunggu yang dituakan memulai dan sering juga mengakhiri. Bertanya jika ragu selalu lebih baik daripada menebak.

Makan bersama dari satu wadah juga mengajarkan sesuatu tentang porsi. Tidak ada yang mengambil lebih dari yang bisa dihabiskan, karena semua terlihat. Rasa cukup, dalam arti paling harfiah, dipelajari di sini.

Siapa pun yang pernah diundang duduk di tepi daun pisang panjang itu biasanya pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan: kenyang, tentu, tetapi juga diterima. Dan itulah tujuan sebenarnya dari semua tradisi ini.

FS
Farah SamudraFarah menulis dua puluh tiga artikel untuk rubrik Jalan-jalan dan Kuliner sejak 2023 dan masih mengisi halaman kami. Ia menyusun itinerari musim hujan berdasarkan catatan pribadi tentang jam berapa hujan turun di setiap kota yang pernah ia singgahi.
Dapatkan tulisan baru Duta Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.