Edisi 26 Oktober 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Duta NusantaraJalan-jalan

Wisata berkelanjutan bagi pejalan biasa: pilihan kecil yang menentukan nasib desa tujuan

Tidak perlu menjadi aktivis untuk bepergian dengan bertanggung jawab. Beberapa keputusan sehari-hari tentang penginapan, makanan, dan sampah sudah membuat perbedaan besar.

Wisata berkelanjutan bagi pejalan biasa: pilihan kecil yang menentukan nasib desa tujuan
Foto: A / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Kata 'berkelanjutan' sering terdengar seperti urusan pemerintah dan lembaga besar. Padahal di tingkat desa wisata, yang menentukan adalah ribuan keputusan kecil pengunjung: di mana menginap, apa yang dimakan, berapa banyak air yang dipakai, dan ke mana sampah dibuang. Pejalan biasa punya pengaruh lebih besar daripada yang disadarinya.

Uang yang tinggal di desa

Baca juga: Tiga hari di satu kota kecil: seni slow travel yang tidak terasa membuang waktu

Pertanyaan paling penting adalah ke mana uang perjalanan mengalir. Menginap di rumah warga atau penginapan milik orang setempat, makan di warung keluarga, dan memakai pemandu dari desa membuat sebagian besar pengeluaran tinggal di tempat yang dikunjungi. Paket wisata yang semuanya dibayar di kota besar sering menyisakan sangat sedikit untuk desa.

Membeli oleh-oleh langsung dari pembuatnya, bukan dari toko di bandara, punya efek yang sama. Kain tenun, kopi, atau kerajinan yang dibeli di desa penghasilnya memberi nilai lebih bagi pengrajin dan biasanya punya cerita yang lebih kaya.

Air, listrik, dan sampah

Banyak destinasi populer di pulau kecil dan dataran tinggi menghadapi keterbatasan air bersih. Mandi secukupnya, tidak meminta ganti handuk setiap hari, dan mengisi ulang botol minum daripada membeli kemasan baru adalah hal sederhana yang berarti besar saat dikalikan ribuan pengunjung.

Sampah plastik adalah masalah paling terlihat di pantai dan jalur pendakian. Membawa kembali sampah sendiri sampai menemukan tempat sampah yang dikelola, menolak sedotan dan kantong plastik, serta membawa wadah makan sendiri saat membeli jajanan adalah kebiasaan yang mudah dan langsung terasa dampaknya.

Menghormati tempat dan orang

Desa adat dan tempat ibadah punya aturan sendiri tentang pakaian, area yang boleh dimasuki, dan waktu kunjungan. Bertanya sebelum memotret orang, terutama saat upacara, adalah bentuk sopan santun paling dasar. Mengikuti aturan setempat, meski terasa merepotkan, adalah harga kecil untuk diterima sebagai tamu.

Satwa liar sebaiknya dilihat dari jauh. Memberi makan monyet, menyentuh terumbu karang, atau mengejar ikan pari untuk foto adalah kebiasaan yang perlahan merusak hal yang justru ingin dilihat. Pilih operator wisata laut yang menjaga jarak dan tidak membuang jangkar di terumbu.

Satu pilihan yang jarang dibicarakan adalah waktu. Mengunjungi tempat populer di luar musim puncak meringankan tekanan pada air, jalan, dan penginapan, sekaligus memberi pengalaman yang lebih tenang. Tempat yang sama bisa terasa sangat berbeda pada hari kerja di bulan yang sepi.

Wisata berkelanjutan pada akhirnya bukan tentang bepergian lebih sedikit, melainkan bepergian dengan perhatian. Desa yang dirawat oleh pengunjungnya akan tetap ada untuk pengunjung berikutnya, dan untuk anak-anak yang lahir di sana.

AW
Agus WangiAgus adalah penulis paling produktif Duta Nusantara dengan dua puluh empat artikel sejak 2023, dari gerobak kaki lima sampai keluarga kue basah. Ia mengenali lemper yang baik dari suara daun pisang yang dibuka, dan masih menulis untuk kami hingga kini.
Dapatkan tulisan baru Duta Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.