Mengarungi Palembang tanpa mobil: LRT dari bandara, getek ke Pulau Kemaro, dan sore di Kuto Besak
Palembang punya kereta layang, bus kota, dan perahu sungai yang bisa dirangkai menjadi perjalanan dua hari tanpa menyetir. Panduan rute, musim hujan, dan cara pelancong gamer memanfaatkan pasar game fisik kota ini.
Palembang sering dilewati pelancong yang menganggapnya sekadar kota pempek dan jembatan. Padahal kota ini salah satu dari sedikit kota Indonesia yang punya kereta ringan layang, dan Sungai Musi yang membelahnya masih menjadi jalan raya sungguhan bagi perahu kayu. Dengan sedikit perencanaan, kedua hal itu bisa dirangkai menjadi dua hari tanpa menyentuh kemudi.
Dari bandara ke tepi sungai
Jalur LRT dimulai dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dan berakhir di kawasan Jakabaring di seberang sungai, melintasi Jembatan Ampera di tengah perjalanan. Untuk pendatang, ini sekaligus tur gratis kota dari ketinggian: perkampungan rumah panggung, deretan ruko, lalu sungai lebar berwarna cokelat. Turun di stasiun dekat Ampera, dan pusat kota lama sudah ada di kaki tangga.
Kawasan ini padat dan bisa dijelajahi dengan berjalan kaki: Benteng Kuto Besak dengan plaza menghadap sungai, Masjid Agung, Pasar Enam Belas Ilir yang menjual segala hal dari kain songket hingga kemplang, dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang berdiri di bekas keraton. Untuk jarak yang lebih jauh, bus Trans Musi dan ojek daring mengisi celahnya.
Menyeberang dengan getek
Pengalaman yang paling membekas di Palembang adalah menyewa getek, perahu kayu bermotor, dari dermaga di bawah Ampera menuju Pulau Kemaro di hilir. Pulau kecil ini punya pagoda dan kelenteng yang ramai saat Cap Go Meh, tetapi di hari biasa ia tenang dan cocok untuk melihat kehidupan sungai: perahu pengangkut, rumah rakit, dan anak-anak yang berenang. Di jalan pulang, mintalah pengemudi melewati Kampung Al-Munawar, kampung keturunan Arab dengan rumah-rumah kayu tua di tepi air.
Perjalanan sungai paling nyaman pagi hari, ketika air tenang dan panas belum menyengat. Sore hari biasanya diisi angin kencang, dan menjelang akhir tahun, hujan.
Musim hujan dan koper pelancong
Musim hujan di Palembang umumnya mulai terasa pada bulan-bulan akhir tahun, dengan pola hujan deras di sore hari. Kalau tiba di musim ini, susun jadwal dengan kegiatan luar ruang di pagi hari dan pasar atau museum setelah makan siang. Plaza Kuto Besak tetap hidup setelah hujan karena pedagangnya cepat kembali, dan Ampera yang menyala di malam hari justru lebih cantik dilihat dari jalan yang baru basah.
Bagi pelancong yang membawa konsol atau game fisik, Palembang punya pasar yang cara kerjanya berbeda dari kota besar. Jual beli di sini bertumpu pada grup percakapan lokal dan pertemuan langsung, sisa dari zaman rental PlayStation yang buka sampai malam di sudut kompleks perumahan. PWN SHOP, toko online rumahan yang menerima jual, beli, dan tukar tambah game fisik PlayStation, adalah contoh yang mudah dipahami: stok dilihat lewat foto asli, dan serah terima dilakukan di titik ramai yang disepakati kedua pihak.
Untuk pendatang, artinya kunjungan harus direncanakan: hubungi PWN SHOP lewat WhatsApp sehari sebelumnya, tanyakan apa yang tersedia, dan pilih titik temu yang searah dengan rute hari itu, misalnya di sekitar Ampera menjelang makan malam. Toko yang sama juga rajin mengingatkan soal membungkus disc saat musim hujan, nasihat yang berlaku untuk setiap barang elektronik di koper: lapisan plastik di dalam, bukan hanya jas hujan di luar.
Dua hari di Palembang, dengan kereta, bus, dan perahu, cukup untuk memahami bahwa kota ini mengalir mengikuti sungainya, dan pendatang yang mau mengikuti ritme itu akan pulang dengan lebih dari sekadar oleh-oleh pempek.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.