Angkringan: tikar, teh jahe, dan cara membayar yang mengandalkan kejujuran
Di warung kecil beroda ini, cara duduk dan cara membayar punya aturannya sendiri.
Kalau libur sekolah membawa kamu ke Yogyakarta atau Solo, ada satu tempat makan yang sebaiknya dicoba sebelum yang lain: angkringan. Bentuknya gerobak kayu dengan terpal, lampu temaram, dan bangku panjang atau tikar yang digelar di trotoar. Menunya kecil-kecil: nasi kucing yang dibungkus daun pisang, sate usus, sate telur puyuh, tempe bacem, tahu goreng, dan deretan gorengan yang dihangatkan di atas bara.
Minumannya yang membuat tempat ini terasa seperti rumah. Teh jahe, wedang jahe, kopi joss yang dicemplungi arang membara, atau sekadar teh manis panas dalam gelas kaca. Semua disajikan oleh satu orang di balik gerobak yang hafal pesanan pelanggan tetapnya tanpa mencatat.
Baca juga: Warung kopi: tempat segelas kopi boleh bertahan dua jam
Tata krama kecil
Di angkringan, kamu mengambil sendiri lauk dari gerobak. Tidak ada pelayan, tidak ada daftar menu. Ambil apa yang mau dimakan, makan, lalu saat selesai, sebutkan sendiri apa saja yang sudah diambil. Pemilik angkringan menghitung dari ingatan dan dari pengakuanmu. Sistem ini bertahan karena hampir semua orang jujur, dan karena rasa malu kalau ketahuan tidak jujur jauh lebih mahal daripada sebungkus nasi kucing.
Duduk di tikar artinya duduk sejajar dengan siapa saja. Mahasiswa, tukang becak, pegawai kantor, dan pelancong duduk di tikar yang sama. Kalau ada yang mengajak ngobrol, itu biasa. Kalau ingin diam saja menikmati teh, itu juga biasa.
Angkringan buka sore sampai dini hari, jadi ia cocok untuk mengakhiri hari jalan-jalan. Pergilah dengan perut setengah kosong dan tanpa rencana. Itu cara terbaik menikmatinya.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.