Warung kopi: tempat segelas kopi boleh bertahan dua jam
Soal duduk lama, bukan soal kopinya.
Ada satu aturan tidak tertulis yang berlaku di warung kopi dari Aceh sampai Pontianak: tidak ada yang mengusir. Segelas kopi hitam bisa bertahan dua jam, pemiliknya pindah dari obrolan politik ke obrolan harga cabai, dan pelayan hanya lewat untuk menanyakan apakah mau ditambah. Warung kopi bukan tempat minum, melainkan ruang tamu kota.
Di Aceh, kopinya disaring berulang kali lewat kain panjang sampai bening dan pekat sekaligus. Di Belitung dan Pontianak, kopi susu disajikan dalam gelas kecil dengan susu kental di dasar yang tidak diaduk sampai pembeli sendiri yang mengaduknya. Di Jawa, kopi tubruk dibiarkan berampas dan orang tahu kapan harus berhenti menyeruput. Cara menyeduhnya berbeda, tetapi fungsi tempatnya sama.
Baca juga: Pempek dan cuko: rahasia Palembang ada di kuahnya, bukan di ikannya
Yang menarik justru siapa yang duduk di sana. Pagi hari diisi orang yang mau berangkat kerja dan membaca koran bekas. Siang diisi pedagang pasar yang baru selesai. Malam diisi anak muda yang membawa laptop dan orang tua yang membawa cerita lama. Semua duduk di bangku yang sama, memesan minuman yang sama, dan tidak ada yang merasa harus buru-buru.
Kalau kamu baru pertama kali masuk warung kopi daerah, ada sopan santun kecil yang memudahkan. Pesan lagi kalau warung mulai ramai dan kursi mulai dicari orang. Jangan menguasai semua colokan listrik. Kalau ada obrolan di meja sebelah yang terdengar seru, boleh ikut menyimak, tetapi tunggu dipersilakan sebelum menimpali.
Kami sedang mengumpulkan cerita warung kopi dari berbagai kota untuk tulisan yang lebih panjang. Untuk sekarang, cukup ini dulu: kalau ingin tahu sebuah kota, duduklah di warung kopinya sampai gelas kedua.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.