Bus malam antarkota untuk pemula: tidur, berhenti makan, dan tiba sebelum subuh
Panduan singkat menjalani perjalanan darat semalaman tanpa menyesal keesokan harinya.
Bus malam adalah cara bepergian yang paling sering diremehkan dan paling sering dirindukan. Berangkat sore, tiba subuh, dan di antaranya ada rest area yang lampunya terlalu terang. Menjelang Lebaran seperti sekarang, bus-bus ini penuh oleh orang yang pulang kampung, dan suasananya berbeda dari hari biasa: lebih riuh di awal, lebih sunyi di tengah malam.
Rute populer seperti Jakarta ke Yogyakarta atau Surabaya kini sebagian besar melewati jalan tol, jadi guncangannya jauh lebih ringan daripada cerita orang tua kita. Bus biasanya berhenti satu atau dua kali di rumah makan langganan. Di bulan puasa, pemberhentian pertama sering dipaskan dengan waktu berbuka, dan pemberhentian kedua menjelang sahur. Ini salah satu alasan bus malam terasa manusiawi.
Baca juga: Warung kopi: tempat segelas kopi boleh bertahan dua jam
Yang sebaiknya dibawa
Jaket tipis, karena pendingin udara bus hampir selalu lebih dingin dari yang kamu kira. Bantal leher kalau punya. Botol air sendiri, tisu basah, dan kantong plastik kecil untuk sampah. Ponsel sebaiknya terisi penuh sebelum naik, karena tidak semua kursi punya colokan yang berfungsi.
Pilih kursi di bagian tengah bus kalau mudah mabuk perjalanan. Kursi paling depan menawarkan pemandangan, tetapi juga lampu kendaraan dari arah berlawanan sepanjang malam. Kursi paling belakang paling terasa guncangannya.
Satu kebiasaan yang layak dipelihara: begitu bus berhenti di rumah makan, turun dan makan, meskipun tidak terlalu lapar. Selain menggerakkan kaki, kamu akan menemukan nasi rames, sayur asem, dan teh manis hangat yang entah kenapa selalu terasa lebih enak di tengah malam, di tempat yang bukan tujuan.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.