Edisi 26 Oktober 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Duta NusantaraBudaya

Teh poci Tegal: gula batu, poci tanah, dan cara pantura menunda sore

Kebiasaan minum teh wasgitel yang membentuk warung dan percakapan di pesisir utara Jawa.

Di pesisir utara Jawa Tengah, dari Tegal sampai Slawi dan Pemalang, teh bukan sekadar minuman pendamping. Ia disajikan dengan cara yang khas: diseduh di dalam poci tanah liat kecil, dituang ke cangkir tanah liat, dan dimaniskan dengan gula batu yang diletakkan di dasar cangkir, bukan diaduk. Orang setempat menyebut tehnya harus wasgitel: wangi, panas, sepet, legi, dan kentel.

Teh yang dipakai umumnya teh hitam melati dari pabrik-pabrik teh di Slawi dan sekitarnya, daerah yang sejak lama menjadi pusat pengolahan teh wangi di Jawa. Poci tanah liat yang tidak dicuci dengan sabun, hanya dibilas air, lama-lama menyimpan lapisan kerak teh di dalamnya, dan pemiliknya percaya kerak itulah yang membuat seduhan semakin enak dari tahun ke tahun.

Baca juga: Jaja Bali: kue tradisional yang bertugas ganda di canang dan di meja tamu

Gula batu yang tidak diaduk

Cara minumnya punya logika sendiri. Gula batu di dasar cangkir larut pelan, sehingga tegukan pertama terasa pahit sepat dan tegukan terakhir manis. Mengaduknya dianggap merusak urutan itu. Ini juga alasan teh poci biasanya diminum lama, sambil berbicara, karena rasanya berubah sepanjang cangkir. Satu poci bisa diisi ulang air panas beberapa kali, dan percakapan ikut panjang.

Warung teh sebagai ruang tamu bersama

Warung teh poci di Tegal dan sekitarnya buka sejak sore sampai malam, menjual teh bersama pisang goreng, tahu aci, dan kadang nasi ponggol untuk yang lapar. Di bulan Agustus ketika kampung-kampung sibuk menyiapkan lomba dan hiasan tujuh belasan, warung-warung ini menjadi tempat panitia rapat tanpa agenda, dan tempat orang sekadar duduk setelah panas siang reda. Tegal juga mengirim warung tegalnya ke seluruh Jawa, dan di banyak warteg di Jakarta teh manis hangat yang datang tanpa diminta adalah turunan jauh dari kebiasaan ini.

Bagi pendatang, ikut duduk di warung teh poci adalah cara paling murah dan paling sopan mengenal pantura. Pesan satu poci, jangan aduk gulanya, dan biarkan sore berjalan lebih lambat dari yang Anda rencanakan.

AW
Agus WangiAgus adalah penulis paling produktif Duta Nusantara dengan dua puluh empat artikel sejak 2023, dari gerobak kaki lima sampai keluarga kue basah. Ia mengenali lemper yang baik dari suara daun pisang yang dibuka, dan masih menulis untuk kami hingga kini.
Dapatkan tulisan baru Duta Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.