Bir pletok: minuman Betawi yang memerah tanpa setetes alkohol
Jahe, serai, dan kayu secang di gelas hangat.
Namanya bir, tapi tidak ada alkohol di dalamnya. Bir pletok adalah rebusan jahe, serai, kayu manis, cengkih, dan kayu secang yang memberi warna merah cerah. Orang Betawi membuatnya sejak lama sebagai penghangat badan, dan cerita yang beredar menyebut namanya meniru minuman orang Belanda tanpa ikut bahan yang diharamkan.
Kata pletok sendiri punya beberapa cerita. Ada yang bilang dari bunyi es yang diguncang dalam wadah bambu, ada yang bilang dari suara tutup botol. Yang jelas, cara menyajikannya dua macam: hangat untuk malam yang dingin, atau dikocok dengan es sampai berbusa untuk siang yang terik.
Baca juga: Kerupuk: pelengkap yang kalau tidak ada, meja makan terasa salah
Di acara apa ia muncul
Bir pletok hadir di hajatan Betawi, pernikahan, dan sunatan, biasanya bersama kue-kue seperti kue cucur dan dodol. Di luar hajatan, ia dijual dalam botol oleh pembuat rumahan, sering dikemas sederhana dengan label tulisan tangan. Di beberapa sudut Jakarta, kamu masih bisa menemukannya di warung yang menjual makanan Betawi.
Desember begini, ketika hujan sering turun sore dan malam Jakarta jadi lebih sejuk, segelas bir pletok hangat terasa masuk akal. Jahenya menghangatkan tenggorokan, secangnya memberi warna yang membuat gelas biasa terlihat istimewa. Minuman ini bukti bahwa Betawi punya cara sendiri menjawab cuaca, dan menjawabnya dengan sopan.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.