Edisi 26 Oktober 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Duta NusantaraJalan-jalan

Dari Bangsal ke Gili Air: menyeberang dengan kapal kayu yang menunggu penuh

Perjalanan pendek di utara Lombok yang mengajarkan kata sabar sebelum sampai.

Pelabuhan Bangsal di Lombok Utara bukan pelabuhan yang rapi. Ada loket kecil, bangku kayu, penjual kopi sachet, dan kapal kayu yang bersandar menunggu penumpang. Kapal umum ke Gili Air, Gili Meno, atau Gili Trawangan baru berangkat kalau penumpangnya cukup. Ini bagian yang perlu kamu terima sejak awal.

Menunggunya bisa sepuluh menit, bisa satu jam. Sambil menunggu, orang membeli air, menitip barang, atau sekadar duduk melihat kapal lain datang dan pergi. Kalau tidak sabar, ada kapal carter yang berangkat kapan saja, tetapi sebagian besar orang lokal memilih kapal umum, dan mengikuti mereka biasanya pilihan paling masuk akal.

Baca juga: Bukittinggi dengan berjalan kaki: Jam Gadang, Pasar Atas, dan tepi Ngarai Sianok

Begitu berangkat, perjalanan ke Gili Air hanya sekitar dua puluh menit. Airnya berganti warna dari hijau keruh dekat dermaga ke biru jernih di tengah selat. Kapal berhenti agak jauh dari pantai dan kamu turun langsung ke air sebatas betis. Pakai sandal yang boleh basah, dan gulung celana sebelum turun, bukan sesudahnya.

Oktober begini laut utara Lombok masih tenang. Angin belum berganti arah dan ombak di selat jarang tinggi, jadi penyeberangan pagi hampir selalu lancar. Kalau kamu berencana pulang hari yang sama, tanya jadwal kapal terakhir ke Bangsal sejak tiba, karena sore hari kapal umum berhenti lebih awal dari yang kamu kira.

Di Gili Air tidak ada kendaraan bermotor. Yang ada sepeda, cidomo yang ditarik kuda, dan kaki sendiri. Setelah menunggu di Bangsal, berjalan kaki mengitari pulau kecil ini terasa seperti lanjutan yang wajar: pelan, dan tidak ada yang mengejar.

AW
Agus WangiAgus adalah penulis paling produktif Duta Nusantara dengan dua puluh empat artikel sejak 2023, dari gerobak kaki lima sampai keluarga kue basah. Ia mengenali lemper yang baik dari suara daun pisang yang dibuka, dan masih menulis untuk kami hingga kini.
Dapatkan tulisan baru Duta Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.