Bukittinggi dengan berjalan kaki: Jam Gadang, Pasar Atas, dan tepi Ngarai Sianok
Kota kecil berhawa sejuk di dataran tinggi Minangkabau ini paling enak dijelajahi tanpa kendaraan.
Bukittinggi adalah kota yang bisa dipahami dalam sehari dengan kaki sendiri. Udaranya sejuk sepanjang tahun, jalannya naik turun, dan hampir semua tempat yang ingin dilihat berada dalam jarak berjalan dari Jam Gadang, menara jam di tengah kota yang menjadi titik temu semua orang.
Mulailah pagi di sekitar Jam Gadang, saat taman di bawahnya masih sepi dan pedagang baru menggelar dagangan. Dari sana, Pasar Atas hanya beberapa langkah. Pasar ini bertingkat, dengan lorong-lorong yang menjual kain songket, kerupuk sanjai dari singkong, keripik balado, dan beragam bumbu kering yang baunya memenuhi lorong. Di lantai bawahnya ada warung-warung yang menyajikan nasi kapau dengan gulai yang dituang dari panci besar bertingkat.
Baca juga: Pasar terapung Lok Baintan: naik klotok sebelum matahari terbit
Dari pasar, berjalanlah menuruni tangga Janjang Saribu atau ikuti jalan menuju Taman Panorama. Di sinilah Ngarai Sianok terbuka: lembah hijau yang dalam dengan sungai kecil di dasarnya dan tebing yang menjulang di seberang. Di dalam taman ada Lobang Jepang, terowongan masa pendudukan yang bisa dimasuki dengan pemandu setempat.
Siang hari, berteduhlah di salah satu kedai yang menghadap ngarai. Pesan teh talua, teh dengan kuning telur yang dikocok sampai berbusa, atau kopi kawa daun yang dibuat dari daun kopi dan disajikan dalam batok kelapa. Keduanya khas dataran tinggi ini dan sulit ditemukan di tempat lain.
Sore hari, kembali ke Jam Gadang saat lampu mulai menyala dan keluarga-keluarga duduk di taman. Bukittinggi tidak perlu dikebut. Ia kota untuk berjalan pelan, berhenti sering, dan makan lebih dari yang direncanakan.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.