Musim durian: mengapa buah yang jatuh sendiri lebih dihargai daripada yang dipetik
Di kampung penghasil durian, kata jatuh bukan sekadar keterangan, melainkan jaminan mutu.
Setiap akhir tahun, saat hujan datang dan udara lembap, lapak-lapak durian bermunculan di pinggir jalan dari Sumatera sampai Jawa. Dan di antara teriakan penjual, satu kata yang paling sering diulang adalah jatuh. Durian jatuh. Bukan durian petik.
Alasannya sederhana. Durian matang dengan sempurna hanya di pohon. Begitu buahnya siap, tangkainya melepas sendiri dan buah itu jatuh ke tanah, biasanya menjelang subuh. Pemilik kebun atau orang kampung memungutnya pagi-pagi. Durian yang dipetik sebelum waktunya mungkin tampak sama dari luar, tetapi dagingnya sering keras, hambar, atau matang tidak merata.
Baca juga: Angkringan: tikar, teh jahe, dan cara membayar yang mengandalkan kejujuran
Karena itu, di kampung-kampung durian ada kebiasaan menunggu. Orang duduk di pondok kebun pada malam hari, mendengarkan bunyi berdebum di antara pepohonan, lalu mencari buahnya dengan senter. Ada kesabaran di situ, dan ada kesepakatan bahwa alam yang menentukan kapan buah siap, bukan manusia.
Bagi pembeli di pinggir jalan, ada beberapa tanda yang biasa dipakai. Tangkai yang masih basah dan patah secara alami menunjukkan buah jatuh sendiri. Aroma yang keluar dari celah kulit menandakan isinya matang. Suara saat buah diguncang, kalau terdengar sedikit bergerak, menandakan daging sudah lepas dari kulit. Penjual yang baik biasanya bersedia membuka satu dan mengganti kalau isinya mengecewakan.
Musim durian adalah musim yang menyatukan orang: keluarga duduk melingkar di tikar, kulit durian menumpuk, dan bau yang bagi sebagian orang tidak tertahankan itu menjadi aroma kebersamaan. Bagi yang tidak suka, cukup duduk sedikit lebih jauh. Bagi yang suka, ini bulan yang ditunggu setahun penuh.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.