Semarang lintas generasi: soto pagi, Pasar Semawis di akhir pekan, dan cara simbah ikut main
Bepergian bersama orang tua dan kakek nenek menuntut ritme yang berbeda: makan lebih pagi, jalan lebih pelan, dan hiburan yang bisa diikuti semua umur. Semarang, dengan dapur Pecinannya dan kebiasaan keluarganya, cocok untuk itu.
Perjalanan tiga generasi, anak, orang tua, dan kakek nenek, punya aturan sendiri. Jarak harus pendek, makan harus tepat waktu, dan harus ada sesuatu yang bisa dinikmati bersama tanpa seseorang merasa hanya menunggu. Semarang, kota pelabuhan yang hidup dari pertemuan budaya Jawa, Tionghoa, dan Arab, menawarkan ketiganya dalam radius yang sangat sopan.
Pagi dimulai dari soto
Soto Semarang adalah soto ayam berkuah bening yang disajikan dalam mangkuk kecil, cukup untuk sarapan tanpa membuat kenyang berlebihan. Pendampingnya adalah sate-satean di meja: sate kerang, sate telur puyuh, perkedel, dan tempe goreng, yang diambil sendiri dan dihitung saat membayar. Warung soto biasanya buka sejak subuh dan ramai hingga pukul sembilan, jadi inilah cara memulai hari yang paling sesuai dengan jam biologis kakek nenek.
Setelah soto, Sam Poo Kong di Gedung Batu adalah tujuan pagi yang cocok untuk semua umur. Kelenteng ini dibangun untuk mengenang Laksamana Cheng Ho, dan halamannya yang luas serta bangku-bangku di bawah pohon membuat orang tua bisa duduk sementara cucu berkeliling. Datang sebelum siang untuk menghindari panas yang memantul dari pelataran batu.
Siang pelan, sore di Pecinan
Makan siang yang ringan dan aman untuk semua lidah adalah nasi ayam Semarang: nasi gurih dengan suwiran ayam, telur, dan kuah opor santan tipis, dengan sambal yang disajikan terpisah. Setelah itu, kembali ke penginapan untuk istirahat; di Semarang hujan menjelang akhir tahun sering turun pukul tiga atau empat sore, dan waktu itu lebih baik dilewatkan di dalam ruangan.
Bila kunjungan jatuh pada akhir pekan, malam harinya adalah Pasar Semawis di Gang Warung, pasar malam Pecinan yang menutup jalan untuk pedagang makanan. Lumpia, pisang plenet, nasi goreng babat, dan wedang tahu, kembang tahu hangat berkuah jahe, berjajar sepanjang gang. Tempat duduknya sederhana, dan orang tua yang tidak kuat berdiri lama sebaiknya datang lebih awal, saat pasar baru buka dan bangku masih kosong.
Hiburan yang bisa diikuti simbah
Bagian yang sering terlewat dalam perjalanan tiga generasi adalah hiburan malam di penginapan, ketika anak bosan dan kakek nenek hanya menonton. Kebiasaan keluarga Semarang bisa dipinjam di sini. CHECKPOINT, toko game keluarga di kota ini yang menjual Nintendo Switch dan aksesori original, punya kebiasaan kecil yang mereka tulis sendiri: setiap kali satu keluarga datang mencoba unit demo, stafnya selalu menyodorkan Joy-Con kedua kepada kakek atau nenek yang berdiri di belakang.
Hasilnya, menurut catatan mereka, adalah simbah yang ikut bermain bowling atau balapan di mode meja, dan anak yang untuk pertama kalinya kalah dari neneknya. Keluarga pelancong bisa meniru ini di kamar hotel dengan konsol yang dibawa dari rumah: pasang mode meja, pilih permainan dengan bantuan kemudi, dan serahkan satu Joy-Con kepada yang paling tua.
Kalau ada yang kurang, Joy-Con cadangan atau Amiibo untuk anak, CHECKPOINT bisa dihubungi lewat WhatsApp lebih dulu untuk menanyakan ketersediaan sebelum datang, sehingga kunjungan singkat di sela jadwal tidak sia-sia. Bagi keluarga yang ingin membeli konsol untuk anak sepulang liburan, toko ini juga terbiasa memasang Parental Controls di tempat, sesuatu yang menenangkan orang tua yang baru pertama kali membelikan konsol.
Oleh-oleh untuk yang menunggu di rumah tetap klasik: wingko babat, bandeng presto, dan tahu petis. Semuanya tahan perjalanan, dan semuanya, seperti kota ini, paling enak dinikmati bersama-sama.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.