Edisi 26 Oktober 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Duta NusantaraBudaya

Makanan mengikuti kalender ibadah: dari takjil Ramadan sampai lawar Galungan

Di Indonesia, apa yang dimakan sering ditentukan oleh hari apa dalam kalender agama. Memahami hubungan ini membantu pejalan tahu kapan datang, apa yang dicari, dan bagaimana bersikap.

Kalender makan di Indonesia tidak hanya mengikuti musim panen, tetapi juga kalender ibadah berbagai agama yang hidup berdampingan. Setiap perayaan membawa hidangannya sendiri, dan sebagian besar hidangan itu hampir tidak muncul di luar waktunya. Bagi pejalan, ini berarti tanggal perjalanan menentukan apa yang bisa dicicipi.

Ramadan dan Lebaran

Baca juga: Oleh-oleh: mengapa pulang dari perjalanan tanpa membawa makanan terasa seperti utang

Bulan Ramadan mengubah ritme makan di seluruh negeri. Siang hari, warung di daerah mayoritas Muslim banyak yang tutup atau menutup tirainya sebagai bentuk hormat. Sore hari, pasar takjil bermunculan di pinggir jalan dengan kolak pisang, es buah, gorengan, dan kue-kue manis untuk berbuka. Ini adalah salah satu pengalaman kuliner paling meriah di Indonesia, dan hanya ada sebulan dalam setahun.

Lebaran, atau Idulfitri, membawa ketupat dan opor ayam, rendang, sambal goreng hati, serta deretan kue kering seperti nastar dan kastengel. Hidangan ini disantap setelah salat Id, dan tradisi saling berkunjung membuat meja makan terbuka bagi tamu, termasuk yang bukan keluarga. Pejalan yang berada di Indonesia saat Lebaran sebaiknya tahu bahwa banyak toko dan transportasi berubah jadwal selama sepekan.

Nyepi dan Galungan di Bali

Di Bali, kalender Hindu menentukan hari-hari besar. Galungan dan Kuningan, yang datang setiap 210 hari, diawali dengan penyembelihan babi dan pembuatan lawar, campuran daging cincang, kelapa, sayuran, dan bumbu, yang dikerjakan bersama oleh keluarga besar dan tetangga sejak subuh. Lawar dan sate lilit adalah makanan kebersamaan, bukan sekadar menu.

Nyepi adalah kebalikannya: satu hari hening ketika seluruh pulau berhenti, tanpa lampu, tanpa lalu lintas, tanpa warung buka. Pejalan yang berada di Bali saat Nyepi perlu menyiapkan makanan sehari sebelumnya dan tinggal di penginapan. Sehari sebelumnya, pawai ogoh-ogoh dan pasar yang sibuk adalah tontonan tersendiri.

Natal, Imlek, dan perayaan lainnya

Di daerah mayoritas Kristen seperti sebagian Sulawesi Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Papua, Natal adalah musim makan besar. Hidangan babi panggang dan berbagai kue tradisional disiapkan untuk acara kunjung-mengunjungi yang mirip dengan tradisi Lebaran. Di Flores dan Timor, pesta Natal bisa berlangsung berhari-hari.

Imlek membawa kue keranjang, lumpia, dan hidangan keluarga Tionghoa-Indonesia yang bercampur dengan rasa setempat. Di kota-kota dengan sejarah Tionghoa yang panjang seperti Singkawang, Semarang, atau Medan, pasar dan rumah makan berubah suasana selama perayaan.

Ada pula tradisi yang berkaitan dengan kalender Jawa dan Islam, seperti Sekaten di Yogyakarta dan Solo menjelang Maulid Nabi, dengan jajanan dan pasar malam yang khas, serta berbagai tradisi selamatan dengan tumpeng dan jajanan pasar yang mengiringi hari-hari penting.

Memahami kalender ini bukan hanya soal mencari makanan, tetapi juga soal hormat. Tidak makan atau merokok di depan umum pada siang hari Ramadan di daerah Muslim, mengikuti aturan Nyepi di Bali, dan menerima undangan makan saat perayaan dengan tangan terbuka adalah cara menjadi tamu yang baik. Undangan itu sering datang tanpa diduga, dan menerimanya adalah pintu masuk terbaik ke rumah-rumah Indonesia.

DI
Dian IndrawanDian menulis lima artikel sejak 2024 tentang kopi, ransel perjalanan, dan makanan yang mengikuti kalender ibadah. Ia membawa timbangan kopi kecil ke setiap perjalanan dan mencatat asal biji di buku saku yang sama sejak artikel pertamanya.
Dapatkan tulisan baru Duta Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.