Edisi 26 Oktober 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Duta NusantaraBudaya

Oleh-oleh: mengapa pulang dari perjalanan tanpa membawa makanan terasa seperti utang

Kewajiban kecil yang mengubah setiap bepergian menjadi urusan bersama.

Di bandara dan stasiun di seluruh Indonesia, pemandangannya sama: orang-orang menenteng kardus kue, dus berisi kue kering, kantong plastik berisi keripik yang diikat rapat. Mereka bukan pedagang. Mereka adalah orang pulang dari perjalanan, dan apa yang mereka bawa adalah oleh-oleh, kewajiban sosial yang tidak tertulis di mana pun tetapi dipatuhi hampir semua orang.

Oleh-oleh berbeda dari suvenir. Suvenir untuk diri sendiri; oleh-oleh untuk orang lain, dan hampir selalu berupa makanan. Logikanya: yang bepergian sudah menikmati sesuatu yang tidak bisa dinikmati yang tinggal, maka sebagian kenikmatan itu harus dibawa pulang dan dibagi. Pulang tanpa oleh-oleh tidak dianggap pelanggaran, tetapi menimbulkan jeda kecil yang canggung ketika rekan kerja bertanya bagaimana liburannya.

Baca juga: Dandang dan kukusan bambu: mengapa nasi tumpeng dan kue basah masih dikukus dengan cara lama

Apa yang layak dibawa

Oleh-oleh yang baik punya tiga sifat: khas daerah asal, tahan perjalanan, dan bisa dibagi banyak orang. Karena itu yang dominan adalah makanan kering dan kue yang dikemas: keripik, dodol, kue kering, kopi bubuk, abon, kerupuk mentah. Buah segar dan masakan basah dibawa hanya untuk keluarga dekat dan hanya kalau perjalanannya pendek. Di kantor, satu kardus besar yang bisa diletakkan di meja bersama lebih dihargai daripada beberapa bungkus kecil yang dibagi dengan memilih.

Ada pula aturan arah. Oleh-oleh dari kota besar ke kampung biasanya berupa barang yang sulit didapat di kampung; oleh-oleh dari kampung ke kota berupa hasil bumi atau masakan rumah yang tidak dijual di kota. Keduanya saling melengkapi, dan keduanya menjadi alasan percakapan.

Cara memberi dan menerima

Oleh-oleh diberikan tanpa upacara. Diletakkan di meja, disebut sambil lalu, dan penerima mengucapkan terima kasih sekali tanpa membuka bungkusnya di depan pemberi. Membuka langsung dianggap tidak sabar; menanyakan harganya dianggap kasar. Kalau oleh-oleh berupa makanan untuk dibagi, pemberi biasanya yang membuka dan mempersilakan, dan tidak ikut makan terlebih dahulu.

Yang menerima tidak wajib membalas saat itu juga, tetapi akan mengingatnya. Ketika gilirannya bepergian, ia akan membawa pulang sesuatu dan utang kecil itu berpindah tangan. Begitulah oleh-oleh bekerja: bukan sebagai pembayaran, melainkan sebagai sirkulasi yang membuat perjalanan satu orang terasa menjadi milik banyak orang. Di negeri sebesar ini, mungkin itulah cara paling sederhana untuk saling mengenal rasa daerah yang belum pernah dikunjungi.

FS
Farah SamudraFarah menulis dua puluh tiga artikel untuk rubrik Jalan-jalan dan Kuliner sejak 2023 dan masih mengisi halaman kami. Ia menyusun itinerari musim hujan berdasarkan catatan pribadi tentang jam berapa hujan turun di setiap kota yang pernah ia singgahi.
Dapatkan tulisan baru Duta Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.