Edisi 26 Oktober 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Duta NusantaraJalan-jalan

Naik kapal kayu antarpulau: jadwal yang mengikuti ombak dan adab di atas dek yang sempit

Bukan feri besar, melainkan perahu bermotor yang menghubungkan pulau-pulau kecil, dengan aturannya sendiri.

Di luar jalur feri besar, pulau-pulau kecil Indonesia terhubung oleh armada yang jauh lebih sederhana: kapal kayu bermotor yang berangkat dari dermaga kampung, mengangkut penumpang, karung beras, sepeda motor, dan kadang kambing. Jadwalnya ada, tetapi tersimpan di kepala nakhoda dan disesuaikan dengan ombak, pasang, dan jumlah penumpang. Bagi pejalan yang terbiasa dengan jadwal tercetak, ini membutuhkan penyesuaian.

Membaca jadwal yang tidak tertulis

Baca juga: Perut aman di perjalanan: kebiasaan kecil untuk makan di tempat baru tanpa jatuh sakit

Kapal reguler umumnya berangkat pagi, ketika laut paling tenang, dan kembali siang atau sore sebelum angin kencang. Datanglah ke dermaga lebih awal dan tanyakan langsung kepada awak kapal, bukan hanya kepada orang di penginapan. Jam delapan sering berarti berangkat ketika penumpang dianggap cukup, dan ini bukan ketidakdisiplinan, melainkan perhitungan bahan bakar yang masuk akal untuk kapal kecil.

Kalau laut sedang tinggi, kapal mungkin tidak berangkat sama sekali, dan tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Karena itu, jangan menjadwalkan penyeberangan di hari yang sama dengan penerbangan pulang. Beri jeda sehari; di pulau kecil, satu hari tambahan jarang terasa sebagai kerugian.

Adab di atas dek

Dek kapal kayu sempit dan dibagi bersama. Barang bawaan ditumpuk di tempat yang ditunjuk awak, bukan di sebelah tempat duduk sendiri. Duduk mengikuti arahan nakhoda yang mengatur keseimbangan kapal; berpindah tempat beramai-ramai ke satu sisi untuk memotret bisa membuat kapal miring. Perempuan dan orang tua biasanya diberi tempat di bagian tengah yang paling stabil, dan penumpang lain diharapkan mempersilakan tanpa diminta.

Pelampung mungkin tersimpan di bawah bangku atau digantung di tiang; pastikan tahu letaknya sebelum berangkat, dan pakailah tanpa malu kalau ombak mulai besar. Membawa kantong plastik untuk barang elektronik adalah kebiasaan yang baik, karena cipratan air laut hampir pasti terjadi. Sampah dibawa turun, bukan dibuang ke laut, meski ada penumpang lain yang melakukannya.

Ongkos dibayar kepada awak, biasanya setelah berangkat atau saat tiba, dan pelancong sebaiknya membayar tarif yang sama dengan penumpang lokal, yang bisa ditanyakan dengan sopan. Setelah itu, duduklah dan nikmati: tidak ada cara memandang pulau yang lebih jujur daripada dari dek kapal yang bergoyang pelan, dengan angin asin dan mesin yang berdentum di belakang.

AW
Agus WangiAgus adalah penulis paling produktif Duta Nusantara dengan dua puluh empat artikel sejak 2023, dari gerobak kaki lima sampai keluarga kue basah. Ia mengenali lemper yang baik dari suara daun pisang yang dibuka, dan masih menulis untuk kami hingga kini.
Dapatkan tulisan baru Duta Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.