Edisi 26 Oktober 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Duta NusantaraJalan-jalan

Semarang bawah dengan berjalan kaki: Kota Lama, Pecinan, dan Pasar Johar yang berdiri lagi

Kota pelabuhan ini paling baik dipahami dari jalanan dataran rendahnya, di antara gedung tua dan kelenteng.

Semarang terbagi dua: kota atas yang berbukit dan sejuk, dan kota bawah yang panas, padat, dan tua. Semua yang bersejarah berada di bawah, dan semuanya berjarak jalan kaki satu sama lain, asalkan dimulai pagi-pagi sebelum matahari tegak.

Kota Lama

Baca juga: Ruteng, kota dingin di tengah Flores: kabut pagi, sawah jaring laba-laba, dan katedral di ujung jalan

Mulailah di Kota Lama, kawasan perdagangan kolonial yang dulu dikelilingi tembok benteng. Jalan-jalannya berbatu, gedung-gedungnya bergaya Eropa dengan jendela tinggi dan pintu lebar, dan sebagian telah dipugar menjadi kafe, galeri, dan toko barang antik. Gereja Blenduk dengan kubah tembaganya menjadi penanda tengah kawasan; dari sana lorong-lorong kecil menuju gudang-gudang tua dan taman yang dinaungi pohon besar. Datang pada hari kerja pagi, dan kawasan ini masih milik pekerja kantor dan pedagang, bukan pengunjung yang berfoto.

Pecinan dan Pasar Johar

Dari Kota Lama, berjalan ke barat daya menyeberangi kali menuju Pecinan, salah satu yang tertua di Jawa. Jalannya sempit dan ramai dengan toko obat, toko kue, dan kelenteng yang pintunya terbuka. Kelenteng Tay Kak Sie di tepi Gang Lombok adalah yang paling besar, dan di depannya ada warung lumpia yang sudah lama menjadi alasan orang datang ke gang ini. Pasar Gang Baru di pagi hari menjual sayur, daging, dan bahan masakan Tionghoa yang jarang ada di pasar lain.

Di seberang Pecinan, Pasar Johar berdiri kembali setelah kebakaran besar dan pemugaran panjang. Bangunannya kembali ke rancangan aslinya dengan kolom-kolom berbentuk cendawan yang menopang atap, membuat lorongnya terang tanpa lampu di siang hari. Pasar ini adalah pasar kota yang sebenarnya, tempat membeli kain, bumbu, dan perkakas, dan tempat yang baik untuk duduk sebentar di warung di tepinya.

Menuju Lawang Sewu dan pulang

Perjalanan ditutup dengan berjalan ke barat menuju Tugu Muda dan Lawang Sewu, gedung perkantoran kereta api kolonial yang terkenal dengan deretan pintu dan jendela tingginya. Koridornya sejuk, lantainya dari ubin tua, dan jendela kaca patrinya paling indah saat sore. Dari sini, Semarang bawah selesai: Kota Lama, Pecinan, pasar, dan gedung kereta api lama sudah terhubung oleh langkah kaki.

Panas Semarang tidak boleh diremehkan. Berjalanlah pagi, berhenti sering, dan terima bahwa siang hari adalah waktu untuk makan tahu gimbal atau nasi ayam di tempat yang teduh, bukan untuk berjalan.

MS
Mega SuryaniMega mendirikan Duta Nusantara pada 2022 dan menulis enam belas artikel hingga 2025, dimulai dari kisah sambal di dapur neneknya. Ia berhenti menulis untuk mengurus kebun rempah keluarga, tetapi masih mencicipi setiap resep baru yang kami kirimkan kepadanya.
Dapatkan tulisan baru Duta Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.