Edisi 26 Oktober 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Duta NusantaraBudaya

Bahasa bunyi pedagang keliling: ketukan bakso, kentongan mi tek-tek, dan klakson roti

Sebelum ada aplikasi pesan antar, kampung-kampung Indonesia sudah punya sistem pemberitahuan yang bekerja lewat telinga.

Bahasa bunyi pedagang keliling: ketukan bakso, kentongan mi tek-tek, dan klakson roti
Foto: D / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Di gang-gang kampung kota, orang tahu siapa yang lewat tanpa melihat ke luar. Ketukan mangkuk dengan sendok yang teratur berarti bakso. Bunyi kayu yang dipukul cepat, tek-tek-tek, berarti mi tek-tek, mi goreng atau rebus yang dimasak di atas gerobak dengan anglo arang. Melodi klakson tertentu berarti roti keliling. Suling bambu yang berbunyi melengking berarti tukang putu. Setiap bunyi adalah merek, dan setiap pedagang mempertahankannya seperti mempertahankan resep. Dua pedagang bakso yang lewat di gang yang sama bahkan bisa dibedakan dari irama ketukannya, dan pelanggan setia tahu mana yang harus ditunggu.

Mengapa bunyi, bukan teriakan

Baca juga: Warteg: etalase kaca, lauk berbaris, dan ekonomi makan siang kota besar

Berteriak melelahkan dan tidak sopan di kampung yang padat, apalagi malam hari. Bunyi alat lebih hemat tenaga, terdengar lebih jauh, dan tidak memaksa pembeli menjawab. Ia juga tidak membutuhkan bahasa; pendatang dari daerah mana pun memahaminya dalam beberapa hari. Yang menarik, kode bunyi ini relatif seragam di banyak kota di Jawa, sehingga seseorang yang pindah dari Semarang ke Bogor tidak perlu belajar ulang.

Tiap bunyi juga disesuaikan dengan jam. Bubur ayam dan nasi uduk ditandai dengan suara pelan di pagi hari, sering tanpa alat karena pembelinya sudah menunggu di depan rumah. Bakso dan mi tek-tek mendominasi sore sampai malam. Sate keliling datang paling malam, ditandai dengan asap dan bunyi kipas lebih dulu daripada seruan penjualnya. Dengan begitu, telinga kampung tahu bukan hanya apa yang lewat, tetapi juga jam berapa sekarang.

Yang berubah di telinga kampung

Beberapa bunyi semakin jarang terdengar. Pedagang es krim dengan musik kotaknya, penjual kerak telor dengan dentingan kalengnya, dan tukang sol sepatu dengan ketukan khasnya menghilang dari banyak gang kota besar, digantikan oleh deru motor kurir makanan yang berhenti sebentar lalu pergi. Namun di kota-kota kecil dan pinggiran, kode bunyi ini masih hidup, dan anak-anak masih belajar membedakannya sebelum belajar membaca.

Ada hal yang hilang bila bunyi itu benar-benar lenyap: makanan yang datang ke rumah tanpa dipesan, pedagang yang dikenal nama dan asal kampungnya, dan percakapan singkat di pagar yang terjadi hanya karena seseorang mendengar ketukan dari ujung gang.

KA
Kinanti ArumKinanti bergabung pada 2024 dan telah menulis delapan artikel tentang adab pasar, papeda, dan sambal yang menjadi dasar segalanya. Ia memasak ulang resep sambal terasinya tiga kali sebelum berani menuliskan takaran gula merahnya.
Dapatkan tulisan baru Duta Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.